
Musafir
Musafir adalah orang yang sedang melakukan perjalanan. Dalam ilmu tasawuf diajarkan bahwa sesungguhnya hidup di dunia ini semua manusia berstatus musafir. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara. Hidup di dunia ibarat “halte” saja.
Sebagai tempat pemberhentian sementara, sebaiknya orang yang cerdas hanya akan mengambil sesuatu sebagai bekal secukupnya saja untuk keperluan dan bekal dalam perjalanan selanjutnya. Orang yang tamak, sesungguhnya tidak memahami makna terdalam hidup di dunia ini. Sebab, semakin banyak harta kekayaan yang diraih, sesungguhnya hanyalah menjadi “penghalang” atau “gangguan” bagi keberlanjutan perjalanan berikutnya. Demikian salah satu ajaran tasawuf yang banyak diajarkan dan dianut oleh umat Islam.
Dalam fiqih (hukum Islam), musafir memiliki hal-ihwal hukum tersendiri. Musafir, atau orang yang sedang melakukan perjalanan tertentu untuk suatu urusan mendapatkan keringanan (rukhshah) dari Allah Swt dalam hal pelaksanaan ibadahnya, baik shalat, puasa, dll.
Seorang musafir dapat menjama’ pelaksanaan shalatnya. Artinya shalat yang seharusnya dilakasanakan dalam dua waktu dapat dikerjakan dalam satu waktu. Seperti shalat zuhur dapat dijama’ (pelaksanaannya) dengan shalat ashar. Demikian juga shalat maghrib dengan shalat isya’. Ditambah lagi dengan bonus selanjutnya, shalat zuhur dan ashar, demikian juga dengan shalat isya’ dapat diqashar (pelaksanaannya disingkat) dari empat rakaat menjadi dua rakat saja.
Demikian maha pemurahnya Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya. Hanya saja dalam perjalanan biasanya ada masyaqqah al-safar (problem dalam perjalanan). Seperti seseorang tidak dapat mengetahui waktu yang tepat untuk melaksanakan shalat lima waktu. Atau seseorang hendak melaksanakan shalat tapi tidak mengetahui arah kiblat secara pasti. Hal ini terjadi kalau seseorang melakukan perjalanan lintas benua, seperti ke Kanada, Amerika atau eropa. Atau seseorang mencari restoran yang cocok dengan menu yang disukai dan menyiapkan menu halal food. Untuk ini, juga memerlukan kejelian tersendiri. Roti umpamanya ada kode-kode tertentu yang dapat diketahui bahwa roti tersebut tidak mengandung babi.
Kalau sudah ada tulisan ham, pastilah roti itu mengandung daging babi. Ada hal yang menarik dalam perjalanan panjang itu, yakni para penumpang pesawat yang biasanya sibuk dengan membaca majalah atau koran yang tersedia. Kalau sudah larut malam, rata-rata penumpang pesawat asyik dengan menonton film kesukaannya lewat media yang disiapkan oleh pesawat. Bahkan ada penumpang yang iseng menonton film-film khusus orang dewasa.
Dr ‘Aidh al-Qarni gusar dan gelisah karena jarang sekali ada penumpang pesawat yang membaca kitab suci al-Qur’an. Ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Semestinya dalam suasana demikian, seorang muslim senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Wa Allah a’lam.