• Jakarta - Indonesia
PENDIDIKAN
Bahagia dalam Kematian

Bahagia dalam Kematian

Oleh: Asriaty Alimuddin Lidda & Muhammad Zain

Kematian adalah penyatuan (jiwa)  kita dengan keabadian (Jalaluddin Rumi).

Hakikat manusia adalah jiwanya yang abadi. Jiwa tercipta dari Ruh Tuhan. Tubuh bukanlah hakikat. Tubuh hanyalah kendaraan. Tubuh hanyalah laksana kepompong bagi kupu-kupu. Tubuh kita ibarat “rahim sementara” untuk sebuah kelahiran baru, manusia baru.

Kematian adalah awal kehidupan sebenarnya. Sabda Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama: al-Nas kulluhum niyam-un. wa idza matu qad intabahu. Semua manusia ( di dunia ini) dalam keadaan tertidur. Ketika manusia meninggal, maka mereka baru tersadar (dari tidurnya). Riwayat ini termaktub dalam Mulla Shadra, Kitab al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyah al-Arba’ah.

Life after death. Kematian bukanlah akhir. Kematian adalah masa transisi, itulah disebut  alam Barzakh.  Kepompong harus terbuka agar kupu-kupu dapat keluar, merangkak, dan terbang tinggi. Benih harus terbelah untuk tumbuh, berkembang menjadi sebuah pohon yang kokoh.

Seorang bayi dalam rahim ibu, tidak bisa mengerti dan paham akan indahnya cahaya pada kehidupan dunia, sejuknya semilir angin di pantai, pegungungan, dan cahaya bintang-bintang di langit.

Kematian adalah pintu menuju keabadian. Ketika tubuh kita mati, cahaya kehidupan dalam diri kita tidak hancur, tetapi berubah. Sesungguhnya setiap hari kita telah mengalami “kematian kecil”. Sewaktu kita tertidur sesungguhnya kita sedang mati sampai Alllah Swt mengembalikan ruh kesadaran kita.

Berdamai dengan Kematian

Syahdan, Jalaluddin Rumi dalam kitabnya yang berjudul: Fihi Ma Fihi mengisahkan bahwa pada satu kesempatan seorang pertapa (sufi) mengalami kedinginan yang sangat dahsyat. Si Pertapa berjalan di sepanjang jalan di kota Konya, Turki yang sedang dilanda banjir. Dalam keadaan dingin yang merambah ke tulang sumsum itu, sekelompok anak kecil menunjukkannya baju wol yang berada di balik sungai. Sebab, waktu itu, kota yang ditempatinya sedang dilanda banjir. Ternyata baju wol yang ditunjuk anak kecil itu adalah bulu beruang yang tergerus banjir tadi. Ketika sang pertapa meraba baju wol itu, ia pun kena cakar beruang. Anak-anak pun  berteriak histeris. Apa yang terjadi sang pertapa? Apakah Anda tidak berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri? Lalu sang pertapa menyahut dari bawah sungai, aku tidak dapat melepaskan diri. Dan bagaimana mungkin saya melepaskan diri karena “Dia” yang menginginkannya. Maksudnya, kematian bagi sang pertapa adalah peristiwa yang diidam-idamkan, dan bukan sesuatu yang menakutkan.

Adalah Ahmad ibn Hamid al-Aswad datang kepada Ahmad ibn al-Mubarok. Aku bermimpi, engkau akan meninggal satu tahun lagi. Barangkali engkau akan bersiap- siap untuk keluar dari dunia. Ibn al- Mubarok berkata: setahun adalah waktu yang terlalu lama. Dalam hal kematian, aku sangat menyukai syair Abu Ali al-Saggaf: Wahai yang tercekam rindu karena perpisahan panjang. Bersabarlah, siapa tahu engkau esok bertemu sang Kekasih. Jadi bagi sufi, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, sehingga kita harus menghindarinya. Kematian justeru pintu untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Kematian adalah sesuatu yang sangat dirindukan.

Kisah wafatnya Alexander the Great ( agung), sang penakluk dunia menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa ketika beliau menghadapai sakaratul maut, kekuasaan, para menteri, sahabat, harta yang melimpah, emas, permata rubi, dokter istana yang masyhur, obat serta pil ampuh tidak bisa menolong dan memberi perbaikan bagi kesehatan beliau. Di penghujung hidupnya, beliau berwasiat agar kelak ketika wafat,  kedua tangannya dibiarkan menjuntai keluar dari peti jenazahnya. Sehingga rakyatku melihat bahwa aku terlahir ke dunia ini dengan kedua tangan tergenggam, tanpa apa pun, dan sekarang saya meninggal dengan kedua tangan terbuka juga tidak membawa apa pun. Ternyata hidup yang singkat ini harus digunakan setiap detiknya untuk berbuat baik dan beramal shaleh sebagai bekal dan investasi di akhirat kelak. Kisah Alexander Agung mengingatkan kita untuk terus berbuat kebaikan pada sisa waktu kita hidup di dunia yang fana ini. Ternyata kekuasaan, kekayaan yang melimpah, istana yang megah, benteng yang kokoh sekalipun tidak bisa menghindarkan dan melindungi kita dari kematian. Amal kebaikan, cinta kasih antar sesama, ilmu yang diajarkan dan diamalkan itulah yang akan kita bawa ke alam kubur. Orang bijak berkata:…Setiap orang yang kamu cintai di dunia ini akan menguburmu atau engkau yang akan mengubur mereka. Harta kekayaan dan anak keturunan adalah perhiasan dunia. Dan amal shalehlah yang kekal dan lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan, Q.S. 18: 46. al-Mal wa al-banun zinat al-hayat al-dunya. wa al-baqiyat-u al- shalihat-u khair-un ‘ind rabbika tsawab-an wa khair-un amal-an.

Allah Swt juga berfirman: Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman ( kepada Allah Swt) dan beramal shaleh serta saling menasehati untuk ( mengikuti) kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. ( Q.S. al-‘Ashr : 1-3). Firman Allah lagi: Dialah Zat yang memberkati  yang dalam genggaman-Nya ( segala) kerajaan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji ( dan memperlihatkan) siapa di antara kalian yang terbaik amal kebajikannya, Q.S. al-Mulk ayat 1-2. Demikianlah kematian dan kehidupan adalah sunnatullah, sesuatu yang pasti. Cukuplah kematian sebagai nasehat buat kita yang masih hidup (Ka fa bi al maut-i mau’idzan).

Menyikapi Duka, Jangan Larut dalam Kesedihan

BACA JUGA :   Kader Ulama di Mandar

Menangislah sebanyak yang kamu butuhkan, tapi di dalam dukamu jangan lupa bahwa Allah Swt sedang memelukmu, sangat mencintaimu dan selalu bersamamu. Janganlah kamu berdua khawatir! Sesungguhnya Aku (Allah) bersamamu berdua. Aku ( Allah) Maha Mendengar dan Maha Melihat, Q.S. 20: 46.

Memang siapa pun yang mengalami duka lara, dia sulit untuk mengucapkan: “Selamat tinggal kepada sang kekasih”. Musibah terkadang membukakan relung hati kita akan banyaknya nikmat yang patut disyukuri. Sebuah telur harus rela pecah demi kelahiran seekor burung. Kehilangan orang yang dicintai juga sementara. Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama berpesan bahwa …pada akhirnya kalian akan bersama dengan orang yang kalian cintai. Mereka yang memiliki ruh dan spirit yang sama akan selalu tercipta ruang untuk bersama. Kematian telah memisahkan kita dengan orang yang kita cintai secara fisik. Tetapi untuk menghidupkan spirit orang dikasihi, kita menghidupkan legacy-nya, kebiasaan baiknya, mengunjungi sahabatnya, melaksanakan wasiatnya, bersedekah atas namanya. Secara spiritual, bersedekah atas namanya sesungguhnya menguatkan ikatan kita dengan mereka dan juga menghadirkan keberadaan mereka (orang yang sudah meninggal) ke tengah kehidupan orang lain.  Kebaikan dan sedekah bisa menembus batas kubur.

Abbaku Sayang! Abba di Mata Putera-Puterinya

Kesan kami terhadap Abba Alimuddin Lidda, Pertama, apa saja yang saya minta pasti diberi. Dalam persoalan uang, jangan pernah mengeluh, nasehat beliau. Dan orang lain tidak perlu tahu akan kondisi keuangan kita. Jadi pantangan untuk berkeluh-kesah dalam hal finansial. Hal inilah yang sangat membekas dalam hidupku. Kita juga terus dinasehati agar banyak bersyukur atas nikmat Allah Swt. Kedua, Abba senang menjamu orang dan tamu. Ini juga sangat memengaruhi hidup saya sampai hari ini. Ada kepuasan tersendiri kalau kami menjamu dan berderma. Ketiga, Abba sangat egaliter dalam bergaul. Siapa pun yang datang bertamu, kita layani sama dan memastikan dia puas dengan pelayanan yang kita berikan. Sejak kecil, Abba dan Ummi selalu menampung orang dan kemanakannya di rumah. Kami hidup berdesak-desakan di rumah yang berukuran kecil di Jalan Cumi-Cumi, Polewali. Keempat, Abba penampilan luarnya tampak keras, tetapi sangat humanis, penyayang dan terkadang humoris. Kami semua anak-anaknya diperlakukan dengan penuh kelembutan. Abba dekat sekali dengan semua putera-puterinya terutama lima orang puterinya. Hampir semua bulan suci ramadhan, beliau selalu menelpon kepada semua anak-anaknya pada saat makan sahur. Hal yang berbeda, ramadhan kali ini (2022), beliau tidak lagi menelpon kami saat makan sahur. Tetapi, ketika hari Idul Fithri kami foto bersama dengan semua anak dan cucu-cucunya, beliau sempat berucap:…terakhir maki ini foto keluarga! Ketika beliau sakit menjelang akhir hayatnya, beliau berpesan khusus dengan suara bergetar kepada puteri ke-9, A’isyah, …“jaga Ummimu, solangangngi matindo. da mupelei. (Jaga Ummimu, temani tidur dan jangan tinggalkan!”). Siap sanna’ma iyau di’e, mua’ melo mi nala pa’annanna Puang ( Saya sudah sangat siap, sekiranya Tuhan berkehendak mengambil ruhku).

BACA JUGA :   Haidar Bagir

Kelima, Abba adalah sosok pemberani dalam menegakkan kebenaran, baik dalam persoalan agama maupun sikap politiknya. Sebagai seorang guru, Ustaz, tokoh agama, beliau sering berkata: hanya Tuhan yang saya takuti, lainnya tidak! Dalam semua jejak-langkah dan keputusan-keputusan penting dalam hidupnya, Abba selalu berpegang-teguh kepada tuntunan agama. Dalam berpolitik bukanlah karena haus akan kekuasaan tetapi Abba berpolitik untuk memperjuangkan kemashlahatan umat ( Testimoni Ansharullah)

Keenam, Abba banyak mengalah kepada isterinya. Beliau lebih banyak mengalah untuk situasi tertentu. Abba selalu menjaga agar Ummi lebih tenang dalam mendidik putera-puterinya. Kalau saya sakit, Abba biasa menggendong saya sampai ke dokter meskipun pada malam hari. Pada pagi hari, beliau juga biasa membawa saya ke lapangan bulu tangkis. Sewaktu saya bekerja sebagai karyawan BRI Polewali, ketika lembur Abba selalu menanti dan menjemput saya di kantor, jam berapa pun. Sesekali Abba juga mengantar saya ke kantor pada pagi harinya. Peristiwa-peristiwa ini selalu teringat dan takkan terlupakan. Kalau kami pulang kampung, dan balik lagi ke Samarinda atau kakak ke Jakarta, sebelum pesawat landing, biasanya Abba lebih duluan menelpon. Dan sejurus kemudian, beliau bertanya: di mana miki ini Nak!. Tada’ mo’o ( apakah kita sudah tiba?) ( Testimoni, Icci Asnawati).

Ketujuh, Jaga hubungan baik dengan saudara-saudaramu, saling menjaga dan saling menghormati. Posisikan kakak sebagai kakak, dan lebih baik mengalah sama kakakmu. Upayakan selalu memberi manfaat kepada orang lain. Jangan perlihatkan kelemahanmu kepada orang lain terlebih lagi persoalan keuangan, (testimoni Ahsanawti).  

Kedelapan, ada beberapa pesan dan nasehat umum yang sering beliau sampaikan, seperti:

Jaga Lebba’i Siri’ta.

Apa iya tu’u Siri’ Saccaker caker di.

Mua’ tituppassi siri’ta, andiangmo diang angga’ta

(Jaga Siri’  karena ia tak lebih dari secangkir.

BACA JUGA :   Muhammad yang Agung

Kalau ia tertumpah, maka hilanglah martabat kita).

“Da leqba Rua paqda paingarammu Lao dipuang walau sakkiniang mata”. ( Jangan sekali-kali hilang zikirmu kepada Allah Swt, meskipun dalam sekejab mata).

Mua’ atonganang mu pogau, tipatto’ bandi di lalang di atemu. Tarrusanmi, da mundur. Sabbar mo’o, pacoai ate. Itu sunnatullah. ( Kalau engkau berbuat kebenaran, pasti terpatri dalam hati nurani. Teruskan saja dan jangan mundur selangkah pun. Sabar saja menjalaninya. Tata hati!), testimoni M Abid.

Kesembilan, hari-hari terakhir menjelang wafatnya, Abba suatu saat berkata lirih kepada Ummi, Purami ulapor di Puang. So’naimo mindolo ma yau Ummi, apa i’o napettuggulangngi sana’eke. apa meddi toi baca-bacamu. malama mu bacangang. Saya sampaikan kepada Tuhan. Biarmi saya duluan, Ummi. Karena kita itu tempat tumpuan anak-anak kita. Kita juga banyak wirid agar bisa juga dibacakan do’a (kalau saya duluan).

Da mappuasa mua andiangi tau sola. Jangan puasa kalau kita tidak sama-sama. Pada faktanya, terkadang Abba berpuasa sunnah, Senin-Kamis meskipun kurang fit sebagai pertanda penghormatan dan kasih sayang kepada Ummi (Hj ST Suhuriyah), testimoni A’isyah.

Terima kasih “Abba sayang” yang telah menanamkan karakter kuat dan menjadi pribadi otentik kepada kami. Semoga kami bisa meneladani sebagian keluhuran budi yang telah ditradisikan selama hidup. Semoga Abba tenang dan lebih bahagia di alam sana. …Wahai Jiwa yang tenang!. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka, masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surga-Ku ( Q.S. al- Fajr (89): 27-30).

Walhasil, terkait kematian, saya teringat pernyataan seorang pujangga besar India: “Kematian tidak menghilangkan cahaya, ia hanya memadamkan lampu karena fajar telah tiba” ( Rabindranath Tagore).

In uridu illa al-ishlah ma istatha’tu wa ma taufiqi illa bi Allah.

Wa Allah a’lam bi al-Shawab.

Referensi:

  1. A. Helwa ( nama samaran), Secrets of Divine Love, (2021).
  2. Muhammad Quraish Shihab, Kematian adalah Nikmat ( 2018).
  3. Muhammad Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2001).
  4. Maulana Jalaluddin Rumi, Kitab al-Mathnawi al-Maknawi.
  5. Maulana Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: